Senin, 12 Juli 2010

Taba Nyeser, Upaya Warga Usir Amot

Seperti diungkapkan Arot selaku ketua panitia adat nyser. Acara adat ini dilaksanakan apabila padi sudah mulai menguning agar terhindar dari hama penyakit padi juga guna menolak ada tujuh amot (hantu) yang selalu mengganggu kehidupan manusia, tanaman dan ternak. Nyeser Taba ini selain terdapat di Manuk Desa Temiang Taba Kecamatan Balai Batang Tarang terdapat pula didaerah kecamatan lainya antara lain Tayan Hulu dan
Tayan Hilir, Parindu dan Meliau.

Adapun dari ke tujuh amot tersebut antara lain Amot Samper yakni hantu yang mengganggu kesehatan penduduk, Amot Buah merupakan hantu yang mengganggu buah di tembawang penduduk, Amot Rangka atau hantu rakus yang mengganggu makanan manusia, Amot Reok hantu yang mengganggu ternak penduduk, Amot Bujang Peranso hantu yang mengganggu ketentraman penduduk, Amot Bu hantu yang mengganggu ternak khusus ayam dan Amot Buer hantu yang mengganggu makanan manusia dan selalu tidak cukup atau rakus.
Daniel, pembina Sanggar Nyeser menjelaskan bahwa adat nyeser merupakan adat budaya nenek moyang yang sudah lama ada dan terus dilestarikan hingga sekarang oleh masyarakat Taba. Tujuannya menolak roh jahat dan berbagai penyakit atau sampar terhadap manusia maupun ternak peliharaan dan tanamannya.
Camat Balai Batang Tarang Drs. F. Marinus, MM mengatakan sangat perlu melestarikan budaya adat karena merupakan gambaran perilaku masyarakat adat dan hal berkaitan dengan pengusiran roh jahat ataupun hantu untuk jaman dulu cukup dihanyutkan ke sungai melalui lanting yang sudah dipersiapkan. ”Namun sekarang yang perlu diusir atau diperangi bersama yaitu hantu kemiskinan, hantu kebodohan, hantu narkoba, hantu ketertinggalan dan hantu lainnya yang dapat mengganggau di saat kehidupan masyarakat di dunia modern ini,” kata Camat
Dalam kesempatan tersebut juga Wakil Bupati Sanggau Poulus Hadi, S.IP saat dikonfirmasi menjelaskan bahwa Nyeser adalah budaya dan tradisi ini adalah asli dari Sangau sehingga jangan sampai punah ditelan zaman.
“Kita perlu sekali melestarikan budaya adat agar tidak hilang namun selain adat nyeser perlu juga kita gali bersama budaya adat lainnya agar terus digalakan dan dilestarikan kembali agar tetap ada karena budaya adat tidak terikat dan terkait dengan agama apapun, budaya adat adalah seni budaya yang menggambarkat sikap perilaku manusia atau masyarakat itu sendiri,” pesan Wakil Bupati.
Dalam acara Nyeser tersebut tampak Kepala DP2KAD Drs. Andeng Suseno, M.Si, Kepala Inspektorat P. Ningkan, S.Sos, Kepala BPMPEMDES Willi Brodus Willy, S.Sos,M.Si, Sekretaris Pariwisata Drs. Abdullah, Kabid. Sosial dan Ketenagakerjaan Simamora, Sekretaris Hutbun, Pol PP, Camat Balai Drs. Fransiskus Marinus,MM, Kades Temiang Taba Ronius Bujang, Tokoh Adat,Agama, Masyarakat, serta masyarakat setempat.**********
Tribun Pontianak, Jumat, 19 Maret 2010
Ditulis oleh Abdul Khoir/Sukardi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar